Senin, 21 Maret 2016

Konsep Normal Abnormal dalam Masyarakat

Nama                   : Dhani Rahmad Riyadi
Kelas          : 2PA07
Npm           : 12514908
Kesehatan Mental#

Pendahuluan
Sulit merumuskan secara tepat apa yang dimaksud dengan normal dan abnormal tentang perilaku. Penyebabnya adalah sulit menemukan model orang yang ideal atau sempurna dan tidak ada batas yang tegas antara perilaku normal dan abnormal. Diperlukan sejumlah patokan atau ukuran untuk membedakan antara normal dan abnormal. Pribadi yang normal pada umumnya memiliki mental yang sehat, sedangkan pribadi yang abnormal biasanya memiliki mental yang tidak sehat. Namun demikian, pada hakekatnya konsep mengenai normalitas dan abnormalitas sangat samar-samar batasnya. Sebab pola kebiasaan dan sikap hidup yang dirasakan normal oleh suatu kelompok tertentu, bisa dianggap abnormal oleh kelompok lainnya. Akan tetapi apabila satu tingkah laku itu begitu mencolok dan sangat berbeda dengan tingkah laku umum, maka kita akan menyebutnya sebagai abnormal (Kartini Kartono).
 Salah satu kriteria yang digunakan untuk menentukan apakah suatu perilaku dikatakan abnormal atau tidak adalah dengan memperhatikan apakah perilaku tersebut menyimpang dari standar tingkah laku atau norma sosial yang dapat diterima.
Dilihat dari setiap sudut pandang, konsep normalitas-abnormalitas adalah konsep yang bersifat relatif. Penyimpangan dari norma apa pun yang diterima seseorang mungkin begitu kecil atau mungkin begitu mencolok sehingga kelihatan jelas sifat abnormalnya
.





Teori

  • Menurut Singgih Dirgagunarsa (1999: 140) mendefinisikan psikologi abnormal sebagai lapangan psikologi yang berhubungan dengan kelainan atau hambatan kepribadian, yang menyangkut proses dan isi kejiwaan.

  • Menurut Kartini Kartono (2000: 25), psikologi abnormal adalah salah satu cabang psikologi yang menyelidiki segala bentuk gangguan mental dan abnormalitas jiwa.

  • Pada Ensiklopedia Bebas Wikipedia (2009),  pengertian psikologi abnormal dinyatakan “Abnormal psychology is an academic and applied subfield of psychology involving the scientific study of abnormal experience and behavior (as in neuroses, psychoses and mental retardation) or with certain incompletely understood states (as dreams and hypnosis) in order to understand and change abnormal patterns of functioning”.

  •  Ada empat aspek untuk menilai normal atau tidaknya perilaku seseorang menurut Stern(1964),yaitu:

  1. daya integrasi, ialah fungsi ego dalam mempersatukan, mengkoordinasi kegiatan ego ke dalam maupun ke luar diri. Makin terkoordinasi dan terintegrasi perilaku atau pemikiran, makin baik.
  2. ada atau tidaknya symptom atau gejala gangguan ditinjau dari segi praktis, merupakan pegangan yang paling jelas dalam mengevaluasi kesehatan jiwa secara kualitatif.
  3.  kriteria psikoanalisis dengan memperhatikan tingkat kesadaran dan jalannya perkembangan psikoseksual. Makin tinggi tingkat kesadaran seseorang, maka makin baik atau sehat jiwanya, sebaliknya jika seseorang terlalu banyak dikuasai alan tak sadar, mak ia kurang sehat jiwanya. Tingkat dan jalannya perkembangan psikoseksual berhubungan erat dengan perkembangan fisik dan perkembangan libido. 
  4. Determinan sosial dan kultural, lingkungan seringkali memegang peranan besar dalam penilaian suatu gejala sebagai normal atau tidak.

  • William Gladstone dalam bukunya “Test Your Own Mental Health” menguraikan pegangan2 praktis untuk menilai kesehatan mental sendiri.
    7 aspek yang merupakan tingkah laku penyesuaian diri (adaptability) yaitu:
1.      Ketegangan
2.      Suasana hati
3.      Pemikiran
4.      Kegiatan (aktivitas)
5.      Organisasi diri
6.      Hubungan antar manusia
7.      Keadaan fisik.





Analisis

Contoh kasus :
Seorang mahasiswa (M) mengeluh tentang nilainya yang tidak memuaskan, padahal ia sudah belajar secara intensif. Teman-temannya yang tidak belajar dan menyontek justru mendapat nilai lumayan. M seringkali bertanya dalam dirinya apakah ia lebih baik menyontek saja karena menurut M menyontek adalah hal yang sudah umum.

Berdasarkan kasus diatas jika dianalisis menurut ciri-ciri perilaku abnormal dapat dijelaskan sebagai berikut:

1.      Disfungsi Psikologis
  • Disfungsi Kognitif                        : tidak terlihat mengalami gangguan
  • Disfungsi Afektif              : M terlihat mengeluh terhadap nilainya yang tidak memuaskan.
  • Disfungsi Psikomotorik    : tidak terlihat mengalami gangguan.

2.      Distres
  • Secara Fisik                       : tidak terihat merusak fisik sendiri
  • Secara Psikologis  : tidak terlihat merusak psikolgis sendiri

3.      Respon Atipikal
Munculnya pandangan dalam diri M bahwa lebih baik dia mencontek saja agar bisa mendapatkan nilai yang lebih baik dan lingkungan disekitarnya pun menganggap mencontek sudah merupakan hal yang umum.

Berdasarkan contoh kasus diatas dapat saya simpulkan bahwa M termasuk kedalam perilaku yang masih normal, karena hanya sedikit ciri yang mengarah kepada perilaku abnormal, hanya pada disfungsi afektif berupa perasaan mengeluh terhadap nilai yang didapatnya dan pandangan bahwa dia ingin mencontek saja karena sudah menjadi budaya umum dilingkungannya.



Daftar Pustaka

  • Indra Ratna kusuma Wardani, Hand Out Psikologi Umum II, Fakultas Mercu Buana Yogyakarta
  • Jeffrey S. Nevid, Spenser A. Rathus, Berverly Greene, Psikologi Abnormal, Edisi kelima, Penerbit Erlangga, Jakarta, 2005.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar